Process Safety Tips of the Week: The Importance of PHA Revalidation

Created on February 12, 2022

Persyaratan untuk melakukan revalidasi PHA bervariasi tergantung pada Standard, Best Practice dan Regulasi mana kita merujuknya. Frekuensi yang umum adalah 5 tahuan. Persyaratan ini menjadi umum karena merupakan persyaratan dari regulasi PSM pertama OSHA PSM:[(e)(6), (e)(1)(v)]. Persyaratan ini juga senada dengan persyaratan dari EPA RMP: 68.67.

API RP 750 memberikan kelonggaran untuk memilih periode antara 3-10 tahun, di mana operator diharapkan untuk menyesuaikan frekuensi yang dipilih dalam rentang tersebut dengan perubahan teknologi, risiko dan modifikasi yang terjadi pada fasilitas masing-masing. Sebagian besar rujukan terbaru setelahnya seperti CCPS RBPS: Elemen 9 (Hazard Identification & Risk Assessment), Responsible Care Process Safety Code: 9.4, OECD Prevention of Chemical Incident: 2.b.8, Energy Institute High level Framework for PSM: 6.13, bahkan peraturan SMK3 – Bab III, Pasal 15 (Peninjauan & Peningkatan Kinerja SMK3) menyiratkan bahwa operator dipersilakan menentukan sendiri frekuensi yang sesuai dengan mempertimbangkan risiko di fasilitas yang akan dilakukan PHA-nya (Risk Based). Lalu mengapa Revalidasi perlu dilakukan? Berikut adalah lima dari banyak alasan diperlukannya dilakukan Revalidasi.

2

1. Persyaratan dari Code, Standard dan Regulasi

Alasan pertama cukup sederhana. Karena Code, Standar dan Regulasi yang dirujuk oleh perusahaan mensyaratakn revalidasi tersebut. Meskipun persyaratan frekuensinya berbeda, OSHA PSM:[(e)(6), (e)(1)(v)], RMP: 68.67, API RP 750 : 3.4, CCPS RBPS: Elemen 9 (Hazard Identification & Risk Assessment), Responsible Care Process Safety Code: 9.4, OECD Prevention of Chemical Incident: 2.b.8, Energy Institute High level Framework for PSM: 6.13, dan PP SMK3 – Bab III, Pasal 15 (Peninjauan & Peningkatan Kinerja SMK3) semuanya setuju pada satu hal: Revalidasi atas Analisa Risiko (dalam hal ini, risiko proses), perlu (baca:wajib) dilakukan.

3

2. Akumulasi Modifikasi Fasilitas Proses

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi. Perubahan yang tidak bersifat RIK (Replacement-in-kind; kita Jangan malu menggunakan terminologi yang formal ini ya, bahasa gaul-nya “tidak Like-to-Like”) akan dikelola melalui MOC. Salah satu tahap dalam MOC memang adalah dilakukannya peninjauan teknis, ekonomis dan risiko. Namun, bisa jadi analisis risiko yang dilakukan untuk MOC tidak mengevaluasi dampak perubahan pada keseluruhan pabrik/Plant.

Perubahan yang terjadi sepanjang operasi pun saling bertumpang tindih dan mempengaruhi. Bisa jadi interaksi antara satu perubahan dengan perubahan lain ini menghasilkan bahaya proses baru yang tidak teridentifikasi, atau merubah bahaya yang sudah ada sehingga mitigasi yang sudah diberikan tidak lagi efektif. Karenanya, perlu secara periodik dilakukan analisa komprehensif yang meninjau keseluruhan plant. Kalau analisa komprehensif ini dilakukan pada tiap MOC maka tentu saja tidak praktis. Karenanya, Industri sepakat untuk “mengakumulasi” perubahan tersebut hingga jangka waktu yang dapat diterima untuk dilakukan revalidasi PHA plant-nya secara keseluruhan.

Jangan pernah berasumsi bahwa MOC Risk Assessment saja cukup. Anda akan terkejut ketika melakukan HAZOP keseluruhan, Anda akan menemukan cukup banyak masalah yang mendasar yang tidak teridentifikasi dalam MOC Risk Assessment. Hal ini umumnya terjadi karena objektif dari Risk Assessment-nya sedikit berbeda dengan Planned Risk Assessment (Periodic PHA). Dalam MOC Risk Assessment kebanyakan kita terpaku untuk hanya menganalisa apakah perubahan ini bisa atau tidak bisa diimplementasikan. Karena dilakukan oleh tim yang lebih kecil, maka kadang kedalaman analisanya pun tidak cukup untuk menggantikan peran revalidasi PHA. Dalam satu kasus bahkan saya pernah melihat sistem di mana semua MOC proses dianalisa dengan HAZID, dan bukan HAZOP (padahal perubahannya bersifat proses) karena koordinatornya tidak bisa melakukan fasilitasi HAZOP. Jangan lupa melakukan audit dan verifikasi atas kesehatan elemen MOC terkair aspek analisa risikonya. Trust, But Verify!

4

3. Meningkatkan Integritas PHA Sebelumnya

Adanya Gap dalam PHA sebelumnya bisa menjadi alasan diperlukannya revalidasi. Gap dalam PHA pada dasarnya adalah kekeliruan dalam produk PHA baik karena kesalahan informasi, kesalahan interpretasi informasi tersebut, ataupun ketiadaan informasi yang membuat PHA tidak lengkap. Tidak ada yang sempurna. Sehebat apa pun fasilitator dan tim yang melakukan HAZOP, pasti selalu ada kekeliruan dan hal yang dapat diperbaiki. Kalau ada fasilitator yang mengatakan HAZOP-nya sempurna, pernyataan ini melawan konsep dasar dari PSM sebagai bagian dari Management System (PSM).

Bisa jadi peserta yang datang memberikan informasi yang kurang tepat. Bisa jadi P&ID yang digunakan mengandung kesalahan-kesalahan kecil yang tidak terlihat sebelumnya. Bisa jadi ada masalah yang memang terlewat dan tidak teridentifikasi sebelumnya secara kolektif oleh tim HAZOP. Bisa jadi apa yang dulu kita terima sebagai praktik yang umum, kini sudah tidak lagi diperbolehkan oleh standar terkini karena ada insiden baru yang menunjukkan bahayanya. Seperti produk Management System lain, kunci dari implementasi PHA yang baik adalah continuous improvement.

Perlu diingat bahwa PHA atau produk dari elemen Hazard Identification & Risk Assessment menjadi basis program Kerja elemen PSM Lainnya (CCPS, 2007). Program-program modifikasi dan projek dalam banyak kasus ditujukan untuk mengendalikan dan memitigasi risiko dari HAZID dan HAZOP. Scenario ERP untuk drill diambil dari hasil risk assessmentMajor Hazard identification, LOPA, Quantitative Risk Assessment, Consequence Modelling, mengambil input scenario dan informasi relevan lain dari hasil PHA yang sudah ada. Akbatnya bila program-program ini menggunakan produk PHA yang tidak ter-update sebagai basisGap atau kekeliruan informasi yang ada bisa jadi akan terakumulasi di dalam program-program turunan tersebut juga.  

5

4. Faktor Perubahan dari Internal Organisasi & Sebagai Sarana Pelatihan

Perubahan di dalam organisasi bisa jadi mendorong diperlukannya revalidasi. Contohnya apabila di dalam HAZOP dilakukan risk ranking dan risk matrix perusahaan berubah. Perubahan risk matrix bukan hal yang sederhana. Perubahan risk matrix bisa jadi mengindikasikan adanya perubahan risk tolerance kolektif perusahaan. Apa yang dulu dianggap risiko-nya bisa ditolerir bisa jadi sudah tidak lagi tolerable bila dilakukan analisa ulang.

Contoh lain adalah apabila terjadi suatu insiden proses besar di perusahaan tersebut yang mendorong Board of Director dan Management untuk meminta tim melakukan HAZOP ulang di seluruh aset yang serupa. Management merupakan risk owner dari risiko yang teridentifikasi dalam HAZOP. Apabila mereka merasa perlu pertimbangan atau informasi dengan tingkat kedalaman lebih baik untuk mengambil keputusan, maka mereka berhak meminta dilakukannya re-assessment.

Standar perusahaan yang berubah bisa juga menjadi dasar dilakukannya revalidasi. Perubahan standar umumnya didorong oleh continuous improvement dalam mengendalikan dan memitigasi risiko. Ketika standar berubah, maka artinya bisa jadi ada cara yang lebih baik dalam mengendalikan dan memitigasi risiko yang harus kita pertimbangkan.

Revalidasi juga menjadi sarana pelatihan yang baik. Pekerja pasti berubah sepanjang umur operasi. Pekerja lapangan bisa jadi pindah Kerja ke tempat lain, atau dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi sehingga pekerja yang kini berhadapan dengan risiko yang teridentifikasi dalam PHA sudah bukan orang yang sama. Revalidasi PHA adalah sarana yang sangat baik untuk mengelola perubahan pekerja ini. Dengan mengikutsertakan mereka dalam revalidasi HAZID dan HAZOP pekerja yang lebih muda/baru dapat mengenal risiko di tempat kerjanya dengan lebih baik.

6

5. Faktor Perubahan dari Eksternal Organisasi

Perubahan standar industri, regulasi dan persepsi maysrakat tentang suatu operasi bisa juga mendorong dilakukannya revalidasi. Bila suatu saat Industry best practice yang diadopsi perusahaan mengatakan bahwa revalidasi harus dilakukan tiap 3 tahun, maka sebelum 5 tahun pun kita harus merevalidasi HAZOP kita sebagai bentuk conformance terhadap standar yang kita adopsi sendiri, apalagi bila perubahannya bersifat regulasi.

 Insiden dari luar perusahaan pada sistem yang serupa pun bisa mendorong dilakukannya HAZOP. Intinya kita memastikan apakah lesson learned dari insiden-insiden proses di luar tempat Kerja kita sepanjang operasi sudah terimplementasikan dalam proses yang dioperasikan. Bayangkan bila tempat Kerja kita mengulang insiden besar serupa yang well-known. Akan sangat berat untuk menjelaskan pada stakeholder bahwa kita tidak mengidentifikasi bahaya tersebut, karena insiden serupa sebelumnya sudah dikenal baik di Industri dan lesson learned-nya dipublikasikan gratis di mana-mana.

 Demikian beberapa alasan dilakukannya Revalidasi atas PHA. Semoga membantu kita memahami lebih baik mengapa PHA perlu secara periodik direvalidasi. Sudahkah Anda merevalidasi PHA Study di tempat Kerja Anda?

7

“Written by Adam Maulana Musthafa, ST, MT, IPM, CFSP, CCPSC”

Technical Director LebSolution Indonesia


Explore other News